Evolusi Gaya Komunikasi Kepemimpinan Indonesia: Dari Soekarno hingga Prabowo Subianto

(Analisis Ilmu Komunikasi Politik dan Perspektif Kepemimpinan Nasional)

Nasional128 Dilihat

 

 

SIBAYGROUPKOMUNIKA.COM//Jakarta, 13 November 2025

Sejak proklamasi 17 Agustus 1945 hingga masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto (2024–sekarang), Indonesia telah dipimpin oleh delapan tokoh nasional yang masing-masing menunjukkan gaya komunikasi politik yang khas.

Menurut pengamat komunikasi politik Prof. Dr. Cipta Lesmana, setiap presiden memiliki bahasa kekuasaannya sendiri — dari retorika ideologis Bung Karno, komunikasi kontrol Orde Baru, hingga gaya populis era media sosial.

Sementara Prof. Dr. Deddy Mulyana menilai bahwa evolusi gaya komunikasi presiden Indonesia adalah “cermin perubahan budaya komunikasi bangsa.”

Adapun Prof. Dr. Ninuk Purnomo, pakar komunikasi gender Universitas Airlangga, menambahkan bahwa “setiap presiden membawa dimensi maskulin dan feminin dalam cara memimpin dan berinteraksi dengan rakyat.”

Soekarno (1945–1967) — Retoris, Karismatik, dan Simbol Revolusi

Ir. Soekarno adalah presiden dengan gaya komunikasi penuh api dan ideologi. Ia berbicara bukan hanya untuk didengar, tetapi untuk membangkitkan semangat nasionalisme.

Dalam teori Charismatic Leadership (Weber), kekuasaannya lahir dari kemampuan menggerakkan emosi kolektif rakyat.

Prof. Cipta Lesmana menyebut Soekarno sebagai “arsitek komunikasi nasional yang mampu membangun narasi kebangsaan dengan bahasa yang menggugah.”

Menurut Prof. Ninuk Purnomo, sisi lembut Soekarno juga tampak dalam upayanya merangkul rakyat sebagai ‘ibu pertiwi’, menunjukkan keseimbangan emosional dalam komunikasi maskulin-revolusioner.

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya.” — Soekarno

Masa kekuasaan: 22 tahun (1945–1967)

Soeharto (1967–1998) — Birokratik, Sunyi, dan Komunikasi Kontrol

Soeharto menampilkan gaya komunikasi pendiam namun penuh wibawa. Ia lebih banyak berbicara melalui struktur dan sistem, bukan kata-kata. Komunikasinya menekankan stabilitas dan disiplin nasional.

Dalam teori Authoritarian Communication Model, komunikasi dijadikan alat untuk mempertahankan ketertiban dan legitimasi kekuasaan.

Prof. Cipta Lesmana mencatat, “Soeharto mengubah komunikasi menjadi manajemen kekuasaan yang halus, tapi terukur.”

Prof. Ninuk Purnomo menilai gaya Soeharto merepresentasikan “maskulinitas dominan dalam kekuasaan, di mana kepatuhan dianggap sebagai bentuk komunikasi paling efektif.”

“Stabilitas politik adalah syarat utama pembangunan.”

Masa kekuasaan: 31 tahun (1967–1998)

B.J. Habibie (1998–1999) — Rasional, Reformis, dan Transparan

B.J. Habibie membawa Indonesia ke era reformasi dengan komunikasi intelektual dan terbuka. Ia berbicara dalam bahasa teknologi dan rasionalitas, menandai peralihan menuju komunikasi demokratis dan informatif.

Prof. Deddy Mulyana menilai Habibie sebagai “presiden pertama yang mempraktikkan komunikasi horizontal antara negara dan masyarakat.”

Sementara Prof. Ninuk Purnomo menyoroti sisi emosional Habibie yang lembut dalam berbicara — “ia menggabungkan kecerdasan logis dan empati emosional, kombinasi yang jarang ditemukan dalam pemimpin laki-laki.”

“Demokrasi tanpa teknologi adalah lumpuh, teknologi tanpa demokrasi adalah buta.”

Masa kekuasaan: 1 tahun 5 bulan (1998–1999)

Abdurrahman Wahid (Gus Dur, 1999–2001) — Humanis, Humor, dan Dialogis

Gus Dur memimpin dengan gaya humanis dan penuh tawa. Ia menjadikan humor sebagai strategi komunikasi politik, mencairkan ketegangan sosial dan ideologis.

Prof. Cipta Lesmana mengatakan, “Gus Dur mengajarkan bahwa senyum bisa lebih kuat dari seribu pidato.”

Menurut Prof. Deddy Mulyana, gaya Gus Dur termasuk dalam kategori “komunikasi kemanusiaan”, di mana keakraban dan empati lebih penting daripada formalitas.”

“Tidak penting apa agamamu, kalau kamu bisa berbuat baik untuk sesama.”

Masa kekuasaan: 2 tahun (1999–2001)

Megawati Soekarnoputri (2001–2004) — Simbolik dan Diam Bermakna

Sebagai presiden perempuan pertama, Megawati menunjukkan gaya komunikasi diam tapi bermakna. Ia tidak banyak bicara, namun bahasa tubuh dan keteguhannya berbicara lebih keras daripada kata-kata.

Menurut Prof. Ninuk Purnomo, gaya Megawati mencerminkan “komunikasi feminin yang tegas namun tidak konfrontatif — kekuatan dalam kesunyian.”

Prof. Cipta Lesmana menambahkan, “Megawati adalah simbol kontinuitas sejarah dan kesederhanaan kekuasaan.”

“Saya tidak banyak bicara, tapi saya bekerja.”

Masa kekuasaan: 3 tahun (2001–2004)

Susilo Bambang Yudhoyono (2004–2014) — Diplomatis, Akademis, dan Terukur

SBY memimpin dengan gaya komunikasi formal, hati-hati, dan berstruktur. Ia mengutamakan keseimbangan antara kata dan citra, menekankan komunikasi strategis untuk menjaga stabilitas politik dan diplomasi internasional.

Prof. Deddy Mulyana menyebut SBY “presiden dengan gaya komunikasi tertata rapi dan penuh perhitungan.”

Sementara Prof. Ninuk Purnomo menilai bahwa “SBY membawa sisi empati yang halus, khas pemimpin yang berorientasi pada harmoni sosial.”

“Kepemimpinan harus disertai keseimbangan antara pikiran dan perasaan.”

Masa kekuasaan: 10 tahun (dua periode: 2004–2014)

Joko Widodo (2014–2024) — Populis, Visual, dan Digital

Jokowi mempopulerkan gaya komunikasi langsung ke rakyat, baik lewat blusukan maupun media sosial. Ia membangun citra pemimpin sederhana yang merakyat, menggunakan visual storytelling untuk membentuk kedekatan emosional.

Prof. Deddy Mulyana menjelaskan bahwa Jokowi “mengubah komunikasi politik menjadi panggung interaksi sosial.”

Menurut Prof. Ninuk Purnomo, gaya Jokowi “menggabungkan empati feminin dengan kecepatan maskulin — menghadirkan keseimbangan yang khas dalam politik modern.”

“Pemerintah harus hadir di tengah rakyat, bukan hanya di balik meja.”

Masa kekuasaan: 10 tahun (dua periode: 2014–2024)

Prabowo Subianto (2024–sekarang) — Tegas, Nasionalistik, dan Emosional

Sebagai presiden ke-8, Prabowo Subianto tampil dengan gaya komunikasi militeristik dan patriotik. Ia menekankan kedaulatan, martabat, dan semangat nasionalisme.

Prof. Cipta Lesmana menilai Prabowo sebagai “pemimpin yang menghidupkan kembali semangat komunikasi komando, namun dikemas dengan retorika emosional yang menyentuh rakyat.”

Sedangkan Prof. Ninuk Purnomo menambahkan, “Gaya Prabowo menunjukkan keseimbangan baru antara ketegasan militer dan sentuhan emosional yang menyapa rakyat dengan hati.”

“Bangsa ini besar karena rakyatnya berani berdiri di atas kakinya sendiri.”

Masa kekuasaan: 2024–sekarang

Analisis Perbandingan Gaya Komunikasi Kepemimpinan Indonesia

Perjalanan komunikasi kepemimpinan Indonesia mencerminkan pergeseran paradigma dari simbol ke digital, dari retorika ke empati. Namun esensinya tetap sama: pemimpin harus mampu berbicara dalam bahasa rakyat, bukan hanya bahasa kekuasaan.

Soekarno menonjol dengan retorika karismatik berlandaskan ideologi nasionalisme. Soeharto mengedepankan gaya birokratik dan kontrol ketat demi stabilitas. Habibie tampil rasional dan reformis, menekankan demokratisasi. Gus Dur membawa komunikasi humanis dan humoris yang egaliter.

Megawati menampilkan gaya simbolik dan kontemplatif yang sarat kesederhanaan. SBY membangun komunikasi diplomatis dan strategis berorientasi harmoni. Jokowi menghadirkan gaya populis-visual dengan kedekatan digital, sedangkan Prabowo kini mengedepankan ketegasan nasionalistik dan kepemimpinan komando.

Prof. Cipta Lesmana menyebut, “Kepemimpinan tanpa komunikasi adalah kekuasaan tanpa arah.”

Prof. Deddy Mulyana menegaskan, “Komunikasi politik bukan sekadar menyampaikan pesan, tapi membangun makna bersama.”

Menurut Prof. Ninuk Purnomo, “Pemimpin sejati adalah yang bisa menyeimbangkan logika, emosi, dan kepekaan — baik sebagai manusia maupun sebagai simbol bangsa.”

Daftar Referensi

1. Lesmana, Cipta. Komunikasi Politik dan Kekuasaan di Indonesia. Jakarta: Rosda Karya, 2004.

2. Mulyana, Deddy. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakarya, 2019.

3. Purnomo, Ninuk. Komunikasi Gender dan Representasi Perempuan di Media. Surabaya: Unair Press, 2017.

4. Weber, Max. The Theory of Social and Economic Organization. Free Press, 1947.

5. Burns, James MacGregor. Leadership. Harper & Row, 1978.

6. Mazzoleni, Gianpietro & Schulz, Winfried. “Mediatization of Politics.” Political Communication Journal, 1999.

7. Mayo, Elton. The Human Problems of an Industrial Civilization. Routledge.