Cicit Gubernur Sumsel Tutup Usia 22 Tahun: Haul Salwa Maulidia Jadi Majelis Muhasabah

BERITA UTAMA50 Dilihat

 

 

SIBAYGROUPKOMUNIKA.COM///Palembang, 10 Mei 2026 – Kabar duka datang dari keluarga _Bapak Yudi Mulyanda dan Ibu Rina Muliyati_ di Lorong Sahabat 1, Talang Karet Plaju. Putri sulung mereka, _Salwa Maulidia_, berpulang ke rahmatullah pada _Senin, 4 Mei 2026 pukul 07.30 WIB_ di RS Charitas Palembang dalam usia 22 tahun.

 

Almarhumah bukan sosok biasa. Ia adalah cicit dari Almarhum _Brigadir Jenderal H. Sainan Sagiman_, Gubernur Sumatera Selatan Ke-10, serta cucu dari _Basaruddin bin H. Bauddin_ dan _Ayunah binti Simin_. Semasa hidup, Salwa merupakan mahasiswi semester akhir Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan (PKN) _Universitas Sriwijaya Kampus Bukit Besar_. Insya Allah bulan Juni mendatang ia dijadwalkan mengikuti wisuda dan berhak menyandang gelar _S.Pd_. Namun takdir berkata lain, Allah SWT lebih menyayanginya.

 

Untuk mendoakan almarhumah, keluarga menggelar _Haul 7 Hari_ pada _Minggu malam, 10 Mei 2026 Ba’da Magrib_ bertempat di kediaman duka, Lorong Sahabat 1, Talang Karet, Kel. Sentosa, Kec. Plaju, Kota Palembang.

 

*Dari Yasin ke Tausiyah: Hidup Ini Ujian*

 

Rangkaian haul dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, Surah Yasin, tahlil, dan doa bersama yang dipimpin pengurus _Musholla Shirotul Jannah_ serta masyarakat sekitar.

 

Puncak acara diisi tausiyah agama oleh _KH. Mgs. Ahmad Fauzan Yayan, S.Q., Lc., Al-Hafidz_, atau disapa Ust. Yayan. Beliau adalah cicit _Kiai Marogan_ yang bersanad keilmuan sampai kepada , Sunan Giri salah satu Wali Songo dan bersambung kepada baginda nabi Muhammad Saw.

 

Di hadapan jamaah, Ust. Yayan mengajak merenungi QS. Al-Mulk ayat 2: _“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”_

 

“Almarhumah Salwa sudah selesai ujiannya. Harusnya bulan depan ia wisuda, pakai toga, foto bersama orang tua. Tapi Allah panggil duluan. Kita yang masih hidup, apa bekal kita? Sudah _ahsan ‘amala_ atau belum?” ucap Ust. Yayan dengan suara bergetar.

 

*Pesan untuk Generasi Digital: Jangan Kotori Jejak*

 

Ust. Yayan menegaskan, di era sekarang setiap orang meninggalkan jejak digital yang tak mudah terhapus. “Apapun profesi kita, jadilah yang terbaik. Paling minimal, jika belum mampu menebar kebaikan, jangan kotori hidup dengan keburukan. Karena jejak itu akan dibaca anak cucu,” pesannya.

 

Ia menutup dengan doa agar almarhumah husnul khatimah. _“Allahummaghfirlaha warhamha wa ‘afiha wa’fu ‘anha”_. Dan mengulang kalimat yang jadi pegangan malam itu: _“Hidup sekali, jadilah berarti. Mati sekali, tinggalkan warisan kebaikan.”_

 

Semoga Allah beri kesabaran bagi keluarga yang ditinggalkan, dan almarhumah ditempatkan di surga-Nya yang tertinggi,” ujar Ust.yayan