Kuatkan Paseduluran, Warga Desa Wuled Galang Donasi Kemanusiaan bagi Penyintas Banjir di Kabupaten Pekalongan

BERITA UTAMA157 Dilihat

 

 

SIBAYGROUPKOMUNIKA.COM////Pekalongan-23 januari 2026 Dampak banjir tak hanya dirasakan warga desa terdampak. Akan tetapi, secara tak langsung, juga berdampak bagi masyarakat secara luas. Aktivitas masyarakat di luar desa terdampak juga akan terhambat karena sulit mengakses jalur lalu lintas yang melewati area desa terdampak.

 

Tersebab itu, masalah banjir bukan semata-mata menjadi tanggungan bagi masyarakat terdampak. Akan tetapi, menjadi masalah bersama.

 

Banjir tidak sekadar mengakibatkan kerusakan dan ancaman kematian. Lebih dari itu, banjir juga menimbulkan masalah-masalah lain, seperti masalah sosial, ekonomi, psikologi, hingga masalah budaya.

“Efeknya kompleks. Bagi masyarakat terdampak, seluruh aktivitas mereka lumpuh. Yang dagang sulit untuk dagang. Yang kerja juga kelimpungan.

 

Sehingga perputaran roda ekonomi warga desa terdampak selama banjir bisa saja tidak berputar. Sementara, masyarakat tak terdampak juga akan merasakan hal yang kurang lebihnya sama. Terutama, bagi masyarakat di luar desa terdampak yang hendak mengakses desa terdampak untuk urusan bisnis, pekerjaan, maupun urusan keluarga. Jadi, semua sebenarnya kena imbas,” tutur Kepala Desa Wuled, Wasduki Jazuli.

 

Menurutnya, apabila dampak tersebut tidak segera diantisipasi akan menimbulkan masalah-masalah baru yang jauh lebih besar pengaruhnya bagi kehidupan bermasyarakat. Seperti fenomena gunung es, di balik masalah yang tampak di permukaan sebagai dampak banjir tertimbun lebih banyak masalah yang berpotensi menciderai sendi-sendi kemanusiaan.

“Kalau tak segera ditangani, bisa saja berpotensi menimbulkan kecemburuan sosial. Warga terdampak bisa saja merasa cemburu pada warga tak terdampak.

 

Apalagi kalau sikap yang ditunjukkan warga tak terdampak adalah tidak peduli dan tidak ada rasa empati atas kesusahan yang dialami warga terdampak. Kalau sudah ada bibit-bibit kecemburuan, hubungan antara warga terdampak dan yang tidak terdampak bisa meregang. Mereka bisa saja sama-sama tak peduli, individual, dan sangat pragmatis. Rasa untuk saling menolong terancam hilang. Begitu pula rasa paseduluran, bisa saja terancam punah,” terang Wasduki.

 

Timbunan masalah ini, kata Wasduki, memiliki rentetan panjang. Bahkan, berpotensi menghambat pelaksanaan pembangunan di desa dan di daerah.

“Dampak terparahnya, apapun upaya yang dilakukan untuk membangun desa maupun daerah agar lebih baik juga akan semakin sulit dilakukan.

 

Partisipasi masyarakat akan jauh berkurang, karena masyarakat kehilangan rasa memiliki atas daerah yang menjadi tempat tinggal mereka. Padahal, yang namanya pembangunan, baik itu pembangunan SDM maupun lingkungan, adalah tanggung jawab bersama, demi mencukupi kebutuhan bersama dan mewujudkan cita-cita bersama,” papar Wasduki.

 

Atas kesadaran itu, Kepala Desa Wuled ini berinisiasi untuk menggalang donasi di desa yang dipimpinnya. Langkah itu diambil sebagai upaya untuk terus memupuk rasa paseduluran di antara sesama warga sekaligus menumbuhkembangkan rasa empati.

“Meski kami tidak terdampak, bukan berarti kami tidak merasakan kesusahan sedulur-sedulur kami yang terdampak banjir. Kan di antara warga desa-desa yang terdampak, pasti ada yang punya hubungan famili dengan warga kami.

 

Ada juga yang punya hubungan kerja atau bisnis. Jadi, upaya kami untuk sedikit membantu sedulur-sedulur kami ini sebagai cara untuk nyambung getih, menyambung seduluran. Kan yang namanya seduluran itu ya sama-sama saling menguatkan. Kalau ada yang kesusahan, sedulur lainnya mesti tandang,” kata Wasduki.

Inisiasi Wasduki untuk menggandeng warganya menggalang donasi mendapat sambutan positif dari warga.

 

Banyak warga yang turut mendermakan sebagian uang mereka, barang-barang yang dibutuhkan, bahkan ada pula yang mendermakan tenaga untuk terjun sebagai relawan.

“Sejak awal banjir, ada beberapa warga Desa Wuled yang sudah berangkat menjadi relawan di beberapa desa terdampak. Terutama, di desa yang dapat kami jangkau. Seperti Desa Samborejo, Mulyorejo, Pacar, dan Karangjompo.

 

Selain itu, bantuan logistik juga kami kirim ke empat desa tersebut. Ya, maklum, upaya kami juga sangat terbatas. Sehingga, tidak mungkin kami jangkau semua desa yang terdampak. Tetapi, paling tidak, upaya kecil kami ini bisa sedikit meringankan beban sedulur-sedulur kami di empat desa di wilayah Kecamatan Tirto ini. Semangatnya, semangat paseduluran,” tutur Wasduki.

 

Sementara, ketika disinggung mengenai dana yang berhasil dihimpun, Wasduki menyebutkan, “Ya, alhamdulillah. Dana yang kami himpun mencapai 18 jutaan lebih. Itu semua dari warga. Untuk barang-barang yang dihimpun juga macam-macam. Ada baju baru, popok bayi, mie instan, jarik atau tapih, air mineral, jajan anak-anak, sarung, baju anak-anak, baju orang dewasa, kerudung, dan telur. Warga ada yang inisiatif bikin nasi bungkus yang dibagikan kepada warga terdampak di empat desa tersebut.”

Wasduki juga menuturkan, upaya penggalangan donasi di desanya masih berjalan.

 

Bahkan, warga yang berkontribusi dalam aksi donasi kemanusiaan Desa Wuled ini terus bertambah. Pada hari ketiga (Jumat, 23/01/2026), pihaknya juga menyambangi kantor Kecamatan Tirto untuk menyalurkan donasi warga.

“Saya bersyukur, warga Wuled kompak. Warga Wuled bisa ikut berempati atas kesusahan sedulur-sedulur yang terdampak.

 

Ini pula yang menjadi spiritnya warga Wuled, seduluran aja nganti pedot. Sebab, kita sebenarnya saling membutuhkan satu sama lain. Kita tidak mungkin selamanya hidup enak. Semua orang pasti pernah mengalami kesusahan. Maka, saat sedulur lain mengalami kesusahan, jangan sampai kesusahan itu berlarut-larut. Untuk itu, sedikit apa yang kami berikan ini anggap saja sebagai pelipur lara sedulur-sedulur kami yang terdampak,” pungkas Wasduki.